Kesadaran Hati

Pasta takkan bertemu

Hingga datangnya saus bersama koki

Ya, mungkin suatu deretan pergi

Tidak, tanpa rentetan ketetapan

Horizon, pecah, tak biasanya

Jika sang langit tak menemani

Akhirnya ku mengetahui

Mengapa pelangi hanya setengah lingkaran

Ya, sayang, karena sisanya ada di matamu

Sungguh aku ingin menemui ibundamu

Untuk mengatakan

Terima kasih untuk melahirkanmu

The Great of Diversity Posted a Photo

fucking holidays

fucking holidays

The Great of Diversity Posted a Photo

memories : fucking moment in my junior high school

memories : fucking moment in my junior high school

The Great of Diversity Posted a Photo

fuckyeahragetoons:

oops

The Great of Diversity Posted a Photo

fuckyeahragetoons:

damn maths

fuckyeahragetoons:

damn maths

The Great of Diversity Posted a Photo

fuckyeahragetoons:

babysitting

fuckyeahragetoons:

babysitting

The Random (8-9/2/2012)

1.

Afraid of what ?

So chase your dreams, come to me, hope we’ll together again

Pray for me, you, us

When the other person can’t realize

We can see again

IN THE BLUE ELEPHANT CAMPUS

2.

Even the racer ride his car

Even the sniper shoot their target

Even the sailor through the ocean

There would be many things if our story spread in the map

When the apple goes down

When the cat shrinks the trees

When the books reveals 

It has a great meaning that very awkward in my heart when we kiss the ground after flying away

3.

Mata berpaling

Ketika ragamu lewat 

Seakan listrik menyetrum hati

Bukan cuma-cuma, untuk mencintaimu pun

Melebihi tenaga nuklir

Setiap jiwa bersaksi, sampai benda matipun menyadari

Begitu hebatnya jiwa ini untuk saling tarik menarik

Spesifik untukmu, putri

4.

Love me tender, your love raise me up, my love raise you up

So we’re both on the wing, explore to every dimentions

You’re not a blur, even so hard to see you

You’re the indications, surreal, reveal our story

The ice crystallize our times, so you keep me warm

5.

Seperti kau dan aku

Layaknya hitam dan putih

Duhai peri kecilku

Jangan anggap pohon seperti kertas

Jangan anggap batu seperti kapas

Dan jangan anggap kupu-kupu seperti debu

Karena perasaan ini, bukanlah fiksi belaka

Hanya untukmu seorang, putri syahidah firdaus, peri kecilku di pagi hari

6. 

Violet itu merah

Mawar itu biru

Khalayak pelangi menjembatani kita

Hal itu tak berlaku

Jika hati kita saling fusi

Kekal, dimana halnya suatu impian

Bersamamu tak lekang oleh waktu

Angin datang dan pergi

Orbital kita tetap stabil

Walaupun sesuatu mengusik polar kita

7. 

Waktu akan berbohong

Ia pasti menambah interval di antara kita

Pesonaku tidak dapat dicuri

Tetapi bisa kau rasakan dan kau simpan

Katakanlah wahai api, teman sang fosfor

Cahayamu takkan menyainginya

Tapi sedikit saja kau curahkan ke bumi, bahkan ke hatiku

Pembangkit listrik pun berkurang gunanya

Apakah daya cinta sedemikian tak hingga ?

8.

Berdiri dibalik keramaian

Menunggu bersama lampu hijau

Tidakkah itu melebihi sederhana ?

Arungi setapak aspal

Jua kita lewati ria

Waktu memuai jika bersamamu

Kecepatan cahaya takkan menandingi

Betapa indahnya hijau menyilang ungu

9.

Even the demons came out

Even the monsters destroyed many things

Even the dragons threw its fire

Even the dracula suck every single blood

Don’t worry, darling, i will be in ur side for through many angles of this long journey

10.

Betapa, oh betapa

Bumi berputar menemanimu

Bersama deru gelombang tanah

Senyumlah, seperti senyuman pertamamu

Yang menghentikan rotasi bulan, dan gemerlap bintang

Oh kasih, bangunkan aku dari tidur panjang ini

Koridor Bersaksi

         Pagi hari yang cerah ini menemani semangatku yang meletup-letup. Ya, hari ini aku akan memasuki tempat belajar baruku, aku pindah sekolah. Awalnya aku tidak mau dipindahkan, tetapi karena orangtuaku dipindahtugaskan, akhirnya aku menuruti saja. Sebelumnya aku tinggal di Bandung dan kemarin baru saja aku sampai di Jakarta.

         Aku mulai bergegas untuk pergi ke sekolah, tetapi ayahku menyarankanku untuk diantar oleh dia karena sebetulnya aku belum mengetahui jalur menuju sekolah baruku, baiklah aku menuruti saja perkataan ayahku. Kemudian mobil merah ayahku melesat dengan seiringnya awan yang mengikutiku. Burung-burung pergi mencari makanan, orang-orang di kota pun mulai sibuk dikejar waktu. Ternyata Jakarta itu sempit, ramai, penuh, sesak seperti gas yang dipadatkan dalam balon, pikirku.

           Setelah sampai, aku langsung melihat arlojiku, pukul 06.30 dan ternyata sekolah tersebut masih sepi karena aktivitas belajar akan dimulai pada pukul 07.30. Setelah menurunkanku, ayahku meninggalkanku dengan memberikan aku uang satu lembar lima puluh ribu rupiah dan satu amplop yang katanya nanti harus aku berikan kepada guru piket.

           Ternyata sekolah ini cukup luas, gedung ini memiliki empat lantai yang dindingnya dihiasi cat berwarna biru, cukup elit menurutku. Di sekeliling koridor utama terdapat pot bunga dan tanaman berjejer, sangat indah. Seperti hiasan alga hijau di laut. Kelas-kelas disini sudah memakai AC, dan ketika aku mengintip di dalamnya, terdapat papan tulis yang besar, di samping itu di belakangnya ada loker yang di dalamnya tersusun rapi. Selain itu dispenser tersebut juga mempermanis komponen kelas yang bercat hijau dan putih ini.

             Sembari melihat-lihat sekeliling, aku menyusuri koridor utama untuk mencari guru piket. Tanpa disengaja, aku melihat seseorang di ujung koridor, ia terlihat sedang melihat mading. Aku mendekatinya, dan terasa nyata, dia adalah seorang perempuan.

            Tingginya semampai, rambutnya yang bergelombang dan berwarna hitam terurai lepas, dan ia memakai tas punggung berwarna ungu. Karena aku melihatnya dari belakang, aku semakin penasaran. Aku mendekat, dan akhirnya aku menghampirinya. Saat ku tepuk pundaknya, ia menoleh, seiring dengan itu, aku mencium semerbak wangi, seperti bunga lavender dari rambutnya. Seketika aku terdiam 3 detik, ia menatapku dan tersenyum. Aku sadar dan aku balas senyumannya dan mulai memberanikan diri untuk berkenalan.

            “Hai, nama kamu siapa ? Jarang sekali ada orang yang datang sepagi ini.” ujarku sambil menyodorkan tanganku untuk bersalaman.

            “Nama aku Deanne Callista, panggilannya Anne, kalau kamu ? Iya aku biasa datang jam segini soalnya kalau datang hampir masuk tuh suka terburu-buru.” Jawabnya sambil menjabat tanganku dengan tangannya yang lembut.

             “Wah nama yang bagus, namaku Zen, Zen Kromander. Sama, soalnya aku suka pusing sendiri kalau datang telat, bikin ga semangat belajar. Ngomong-ngomong, kamu lagi liat apa ?” Tanyaku penasaran.

             “Ini, aku lagi cari informasi tentang lomba atau kegiatan-kegiatan. Oya, kamu anak baru ya ?” Tanyanya sambil tertawa kecil.

             “Ckckck aku juga suka ikut lomba loh, hehe iya aku baru pindah dari Bandung.”

           “Wah ntar kalau ada lomba aku ajak kamu ya ! Oh, Bandung, kamu tau kamu nanti kelas mana ?”

             “Kurang tahu tuh, makanya ayahku memberikanku amplop untuk diberikan ke guru piket. Anne mau nganterin aku ga dimana guru piket ?” tanyaku memelas.

             Ia tersenyum dan menjawab, “Siaaaaaap yuk ikut aku”. Dengan jarinya yang menantang aku, aku pun semangat, karena dia adalah orang pertama yang aku kenal di sekolah ini, perempuan lagi.

             Hari begitu cepat jika bersama dirinya, ya, ternyata aku sekelas dengan dia, betapa bahagianya diriku, inikah jatuh cinta pada pandangan pertama ?

             Esok hari begitu cerah, sinar fajar menyingsing menuju mataku, begitu cerah secerah jiwaku yang penuh semangat.

             Aku pergi ke sekolah, pagi sekali, ya, demi Anne.

             Ini kesempatan buat mendekati Anne, pikirku. Aku pun duduk di bangku sebelahnya yang terletak paling depan.

             “Hari ini ga ada PR kan ne ?” tanyaku iseng.

             “Ga ada ko zen, palingan ulangan fisika doang.” jawabnya santai.

             “Apa ? Ulangan ? Tentang apa ne ?” jawabku panic, soalnya tadi malam aku hanya belajar matematika.

             “Tentang teori relativitas kok, mau aku ajarin ?”

             “Boleh deh, aji mumpung.” senyumku ke dia.

             “Ih genit, yauda sini sini.”

             Setengah jam sebelum bel itu hidupku terasa bahagia, ya aku semakin tertarik dengan dia, dia pintar, ramah dan juga rajin.

             Tiba-tiba semua terasa aneh, kelasku terbang ke awang-awang, aku segera memegang tangan Anne dan memeluknya erat, tak ingin ku lepas, tetapi semua sirna, angin yang membawa kelas ini tak dapat ku elak, Anne terhempas ke suatu tempat. Sedangkan aku masuk ke jurang…

             “Zen, bangun, sudah pagi, bukannya hari ini pertama kali kamu masuk sekolah barumu ya ? Ayo segera mandi.” tangan Ibuku memegang pundakku yang memerintahkanku untuk bangun.

             “Apa ? Itu mimpi ? Oh tidak.” bangunku kecewa, akhirnya aku segera mandi dan sarapan pagi.

             “Zen, kamu mau Ayah antar ?” ayah menyarankanku.

             “Oke pa, kebetulan nih aku gatau tempatnya hehe”

             Mobil ayahku meluncur dengan cepat, banyak pemandangan yang bisa kulihat disini, gedung pencakar langit, orang-orang yang pergi bekerja, mobil-mobil berantrian, dan lain-lain.

             “Ini Zen, Ayah kasih kamu uang jajan sama amplop, nanti amplop nya kamu kasih ke guru piket ya, selamat belajar !” ayahku menyemangatiku.

             Aku turun dari mobil, melihat sekitar, langit masih berwarna lembayung, seperti terong matang, pikirku.

             Semakin lama aku semakin bingung, terasa ada yang aneh, terasa ada yang tertinggal. Akhirnya aku menelusuri lorong utama sekolah itu.

             Aku melihat-lihat, banyak sekali pot-pot di pinggir lorong, menurutku sekolah ini termasuk berwawasan lingkungan.

             Di ujung lorong aku melihat seseorang, ia terlihat sedang memandangi mading. Aku langsung ingat sesaat, aku langsung memberanikan diri untuk menyapanya.

             “Hai, nama aku Zen Kromander, nama kamu siapa ? Jarang sekali ada orang yang datang sepagi ini.” tanyaku gerogi, untuk memperjelas sesuatu.

             “Hei, nama aku Deanne Callista, teman-teman biasa memanggilku Anne …..”

             Aku sadar. Mataku memandang matanya, inikah suatu keajaiban ? Aku tidak tahu menahu soal rahasia tuhan itu, yang terpenting, aku bersyukur bisa bertemu dengannya dua kali.

TAMAT

The Unforgivable Moment of The Diversity

When the stars gaze down

The clouds carried a lot of happiness

The butterflies came

To rise you up

Everythings like a stream

Still blur for me

So look up the cherry trees

The dawn will greet you

To lead us through the journey

The pixies throw the ball

Cheers up and draw the rainbows

It opened the gate between us

You sail through

With the dark star around you

And I ran into a seashore

Just keep your life curious

If we hook a dream

When your silhouette against the twilight

I wish your decoy would always stay there

The drama would be began

The ice would be melted

The stereo would be crashed

This feeling would be blasted

Dear over the edge can you see me ?

That rainbows flows from your eyes

So I’d rather be the stone

Than across the bridge to meet you

Over there, if i were the little flower, will you be my sun ?

The Great of Diversity Posted a Photo

the-absolute-funniest-posts:


Follow this blog, you’ll love it on your dashboard!