Pagi hari yang cerah ini menemani semangatku yang meletup-letup. Ya, hari ini aku akan memasuki tempat belajar baruku, aku pindah sekolah. Awalnya aku tidak mau dipindahkan, tetapi karena orangtuaku dipindahtugaskan, akhirnya aku menuruti saja. Sebelumnya aku tinggal di Bandung dan kemarin baru saja aku sampai di Jakarta.
Aku mulai bergegas untuk pergi ke sekolah, tetapi ayahku menyarankanku untuk diantar oleh dia karena sebetulnya aku belum mengetahui jalur menuju sekolah baruku, baiklah aku menuruti saja perkataan ayahku. Kemudian mobil merah ayahku melesat dengan seiringnya awan yang mengikutiku. Burung-burung pergi mencari makanan, orang-orang di kota pun mulai sibuk dikejar waktu. Ternyata Jakarta itu sempit, ramai, penuh, sesak seperti gas yang dipadatkan dalam balon, pikirku.
Setelah sampai, aku langsung melihat arlojiku, pukul 06.30 dan ternyata sekolah tersebut masih sepi karena aktivitas belajar akan dimulai pada pukul 07.30. Setelah menurunkanku, ayahku meninggalkanku dengan memberikan aku uang satu lembar lima puluh ribu rupiah dan satu amplop yang katanya nanti harus aku berikan kepada guru piket.
Ternyata sekolah ini cukup luas, gedung ini memiliki empat lantai yang dindingnya dihiasi cat berwarna biru, cukup elit menurutku. Di sekeliling koridor utama terdapat pot bunga dan tanaman berjejer, sangat indah. Seperti hiasan alga hijau di laut. Kelas-kelas disini sudah memakai AC, dan ketika aku mengintip di dalamnya, terdapat papan tulis yang besar, di samping itu di belakangnya ada loker yang di dalamnya tersusun rapi. Selain itu dispenser tersebut juga mempermanis komponen kelas yang bercat hijau dan putih ini.
Sembari melihat-lihat sekeliling, aku menyusuri koridor utama untuk mencari guru piket. Tanpa disengaja, aku melihat seseorang di ujung koridor, ia terlihat sedang melihat mading. Aku mendekatinya, dan terasa nyata, dia adalah seorang perempuan.
Tingginya semampai, rambutnya yang bergelombang dan berwarna hitam terurai lepas, dan ia memakai tas punggung berwarna ungu. Karena aku melihatnya dari belakang, aku semakin penasaran. Aku mendekat, dan akhirnya aku menghampirinya. Saat ku tepuk pundaknya, ia menoleh, seiring dengan itu, aku mencium semerbak wangi, seperti bunga lavender dari rambutnya. Seketika aku terdiam 3 detik, ia menatapku dan tersenyum. Aku sadar dan aku balas senyumannya dan mulai memberanikan diri untuk berkenalan.
“Hai, nama kamu siapa ? Jarang sekali ada orang yang datang sepagi ini.” ujarku sambil menyodorkan tanganku untuk bersalaman.
“Nama aku Deanne Callista, panggilannya Anne, kalau kamu ? Iya aku biasa datang jam segini soalnya kalau datang hampir masuk tuh suka terburu-buru.” Jawabnya sambil menjabat tanganku dengan tangannya yang lembut.
“Wah nama yang bagus, namaku Zen, Zen Kromander. Sama, soalnya aku suka pusing sendiri kalau datang telat, bikin ga semangat belajar. Ngomong-ngomong, kamu lagi liat apa ?” Tanyaku penasaran.
“Ini, aku lagi cari informasi tentang lomba atau kegiatan-kegiatan. Oya, kamu anak baru ya ?” Tanyanya sambil tertawa kecil.
“Ckckck aku juga suka ikut lomba loh, hehe iya aku baru pindah dari Bandung.”
“Wah ntar kalau ada lomba aku ajak kamu ya ! Oh, Bandung, kamu tau kamu nanti kelas mana ?”
“Kurang tahu tuh, makanya ayahku memberikanku amplop untuk diberikan ke guru piket. Anne mau nganterin aku ga dimana guru piket ?” tanyaku memelas.
Ia tersenyum dan menjawab, “Siaaaaaap yuk ikut aku”. Dengan jarinya yang menantang aku, aku pun semangat, karena dia adalah orang pertama yang aku kenal di sekolah ini, perempuan lagi.
Hari begitu cepat jika bersama dirinya, ya, ternyata aku sekelas dengan dia, betapa bahagianya diriku, inikah jatuh cinta pada pandangan pertama ?
Esok hari begitu cerah, sinar fajar menyingsing menuju mataku, begitu cerah secerah jiwaku yang penuh semangat.
Aku pergi ke sekolah, pagi sekali, ya, demi Anne.
Ini kesempatan buat mendekati Anne, pikirku. Aku pun duduk di bangku sebelahnya yang terletak paling depan.
“Hari ini ga ada PR kan ne ?” tanyaku iseng.
“Ga ada ko zen, palingan ulangan fisika doang.” jawabnya santai.
“Apa ? Ulangan ? Tentang apa ne ?” jawabku panic, soalnya tadi malam aku hanya belajar matematika.
“Tentang teori relativitas kok, mau aku ajarin ?”
“Boleh deh, aji mumpung.” senyumku ke dia.
“Ih genit, yauda sini sini.”
Setengah jam sebelum bel itu hidupku terasa bahagia, ya aku semakin tertarik dengan dia, dia pintar, ramah dan juga rajin.
Tiba-tiba semua terasa aneh, kelasku terbang ke awang-awang, aku segera memegang tangan Anne dan memeluknya erat, tak ingin ku lepas, tetapi semua sirna, angin yang membawa kelas ini tak dapat ku elak, Anne terhempas ke suatu tempat. Sedangkan aku masuk ke jurang…
“Zen, bangun, sudah pagi, bukannya hari ini pertama kali kamu masuk sekolah barumu ya ? Ayo segera mandi.” tangan Ibuku memegang pundakku yang memerintahkanku untuk bangun.
“Apa ? Itu mimpi ? Oh tidak.” bangunku kecewa, akhirnya aku segera mandi dan sarapan pagi.
“Zen, kamu mau Ayah antar ?” ayah menyarankanku.
“Oke pa, kebetulan nih aku gatau tempatnya hehe”
Mobil ayahku meluncur dengan cepat, banyak pemandangan yang bisa kulihat disini, gedung pencakar langit, orang-orang yang pergi bekerja, mobil-mobil berantrian, dan lain-lain.
“Ini Zen, Ayah kasih kamu uang jajan sama amplop, nanti amplop nya kamu kasih ke guru piket ya, selamat belajar !” ayahku menyemangatiku.
Aku turun dari mobil, melihat sekitar, langit masih berwarna lembayung, seperti terong matang, pikirku.
Semakin lama aku semakin bingung, terasa ada yang aneh, terasa ada yang tertinggal. Akhirnya aku menelusuri lorong utama sekolah itu.
Aku melihat-lihat, banyak sekali pot-pot di pinggir lorong, menurutku sekolah ini termasuk berwawasan lingkungan.
Di ujung lorong aku melihat seseorang, ia terlihat sedang memandangi mading. Aku langsung ingat sesaat, aku langsung memberanikan diri untuk menyapanya.
“Hai, nama aku Zen Kromander, nama kamu siapa ? Jarang sekali ada orang yang datang sepagi ini.” tanyaku gerogi, untuk memperjelas sesuatu.
“Hei, nama aku Deanne Callista, teman-teman biasa memanggilku Anne …..”
Aku sadar. Mataku memandang matanya, inikah suatu keajaiban ? Aku tidak tahu menahu soal rahasia tuhan itu, yang terpenting, aku bersyukur bisa bertemu dengannya dua kali.
TAMAT